PENDEKATAN MANAJERIAL
DALAM PENGELOLAAN KELAS







MAKALAH


Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Memenuhi Tugas
Matakuliah Manajemen Kelas
Dosen Pengampu : Miswanto, M.Pd.

oleh:
1.        Syaefudin                                  1223301160
2.        Tantri Senjayani                      1223301161
3.        Ulfa Nurul Sangadah              1223301162
4.        Ulfah Tria Suci Utami             1223301163
5.        Ulfatun Mukaromah               1223301164
6.        Uli Alfianti                                1223301165

6 PAI E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015
PENDEKATAN MANAJERIAL DALAM PENGELOLAAN KELAS

A.    Pendahuluan
Kondisi pada masa sekarang sudah banyak ditemukan tentang konsep, strategi, media, dan kombinasi-kombinasi desain pembelajarannya. Namun yang menjadi persoalan sekarang bukanlah pada penerimaan prinsip-prinsip belajar yang diperlukan, melainkan terletak pada bagaimana pelaksanaannya. Lebih lanjut berujung pada persoalan siapa, apa, dan untuk siapa prinsip itu diterapkan. Melihat keunggulan sifat-sifat yang ada pada gurulah yang kemudian menjadi jawaban dari pertanyaan tersebut. Bahwa selain mengajar, guru dipandang mampu melakukan sebuah pengelolaan terhadap kelasnya.

B.     Guru sebagai Manajer (pengelola) Kelas
Pada dasarnya ada dua macam kegiatan yang dilakukan oleh setiap guru, yaitu mengajar dan mengelola sumber belajar. Guru dikatakan sebagai pengelola (manager) apabila seorang guru dengan sengaja menciptakan suatu lingkungan belajar di dalam kelasnya dengan maksud untuk mewujudkan tujuan yang sudah dirumuskan sebelumnya.[1] Dalam hal ini, fungsi guru jika dilihat dari sisi sebagai manajer dibedakan menjadi empat, yaitu merencanakan, mengorganisasikan, memimpin, dan mengawasi.
  1. Merencanakan
Perencanaan merupakan tugas pokok seorang manajer, dimana dialah yang menentukan suatu organisasi akan berjalan. Guru sebagai manajer di kelas memiliki tanggung jawab untuk menganalisis sistem secara keseluruhan, yaitu dari perencanaan proses pembelajaran sampai perencanaan program evaluasi yang akan dilakukan, baik yang bersifat kognitif, afektif, ataupun psikomotorik.
Dalam menjalankan tugas ini, guru dalam menyusun suatu tujuan dalam pembelajaran harus disesuaikan dengan kurikulum, kondisi sekolah,  kemampuan dan perkembangan siswa, dan keadaan guru sendiri.[2] Perencanaan ini mencakup perencaan jangka panjang dan perencanaan jangka pendek. Perencanaan jangka panjang biasanya berbentuk silabus sedangkan perencanaan jangka pendek berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Di dalam silabus tertulis tujuan pembelajaran, pokok bahasan, metode mengajar, media dan sumber belajar, evaluasi pengajaran, dan alokasi waktu. Sedangkan dalam RPP ditulis tujuan instruksional, materi yang dipelajari, kegiatan belajar-mengajar, media/alat dan sumber belajar, dan evaluasi berupa soal-soal. Selain itu sebelum penulisan hal-hal tersebut, dalam silabus maupun RPP juga dilengkapi dengan identitas silabus/RPP.

  1. Mengorganisasikan
Pengorganisasian melibatkan penciptaan secara sengaja terhadap suatu lingkungan belajar dan pendelegasian tanggung jawab, dalam rangka untuk mewujudkan tujuan program pendidikan dan latihan yang telah dirancang guru. Pengorganisasian ini mencakup pengaturan sumber belajar dan implementasiannya dalam pembelajaran.
Untuk menjalankan fungsi ini, guru diharuskan memiliki keterampilan dalam beberapa hal, seperti memilih teknik pembelajaran yang tepat, penggunaan media belajar yang sesuai, serta keterampilan penataan ruang kelas. Dalam menjalankan fungsi guru ini, bisa dilakukan dengan beberapa teknik, yaitu struktur tanda atau signal, struktur berantai, struktur diskriminasi ganda, struktur konsep, dan struktur prinsip.[3]
Sebagaimana penggunaan teknik, dalam penggunaan media pembelajaran juga harus disesuaikan dengan materi yang diajarkan. Ada beberapa media yang bisa digunakan yaitu media berbasi manusia (guru, instruktur, tutor, kegiatan kelompok, dll), media berbasis cetakan (buku, penuntun, buku kerja/latihan, dll), media berbasis visual (buku, chart, grafik, peta, figure/gambar/foto, transparansi, film bingkai/slide), media berbasis audio-visual (video, film, slide bersama tape, TV, dll),  dan media berbasis computer (pengajaran dengan bantuan computer dan video interaktif).[4]

  1. Memimpin
Fungsi memimpin atau mengarahkan adalah fungsi yang sangat bersifat pribadi, dan melibatkan gaya motivasional seorang guru. Berkaitan dengan hal ini, guru memiliki tugas untuk membimbing, mendorong, dan mengawasi siswanya sehingga mereka mampu mencapai tujuan yang sudah dirancang. Selain membimbing guru juga dituntut mampu memilih strategi yang tepat ketika mengajar.
Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Motivasi dalam belajar berperan dalam hal menumbuhkan gairah, senang dan semangat untuk belajar. Tindakan guru dalam memberikan motivasi kepada siswa dapat melalui pemberian nilai, hadiah, penciptaan saingan/kompetisi, penumbuhan ego-envolvement (kesadaran pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras untuk mengerjakan), memberi ulangan, memberi tahu hasil ulangan, pujian, hukuman, menumbuhkan hasrat anak untuk belajar, dan menumbuhkan minat siswa.[5]
Dalam dunia pendidikan banyak sekali strategi mengajar yang dikenal, yang mana bisa menjadi alternatif guru dalam menyampaikan materi kepada siswa. Adapun strategi tersebut seperti ceramah, kerja kelompok, penemuan, simulasi, eksperimen, demonstrasi, karya wisata, sosiodrama, drill, Tanya jawab, diskusi, dan sebagainya. Namun perlu diperhatikan, agar penggunaan strategi tersebut berhasil untuk mencapai tujuan, seorang guru terlebih dahulu harus mengenal sifat khas pada setiap strategi sehingga mengetahui bagaimana strategi itu digunakan.[6]

  1. Mengawasi (Kontrol)
Fungsi mengawasi pada guru bertujuan untuk mengusahakan agar peristiwa-peristiwa yang telah direncanakan. Kegiatan pengawasan ini memungkinkan guru dalam memonitoring kemajuan yang telah diperoleh. Sehingga penyimpangan-penyimpangan yang terjadi bisa dikendalikan. Dalam hal ini guru mempunyai kegiatan untuk mengevaluasi sistem belajar, mengukur hasil belajar, dan memimpin dengan dituntun oleh tujuan.
Evaluasi digunakan guru untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan siswa, dan untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.[7] Jika belum maka bisa dilakukan koreksi, dan jika berhasil maka bisa dilakukan peningkatan-peningkatan. Untuk mengukur hasil belajar siswa dapat menggunakan tes, baik tes tertulis maupun tidak tertulis. Untuk bisa mencapai suatu tujuan, maka dalam melaksanakan suatu program, seorang pemimpin harus berjalan sesuai dengan tujuan tersebut, sehingga evektivitas setiap tindakannya mampu mengubah sumber menjadi hasil.

C.     Penutup
Selain mengajar, guru juga mempunyai kewajiban untuk mengelola kelasnya. Adapun tujuan pengelolaan tersebut adalah untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan tersebut, fungsi guru kemudian dibedakan menjadi empat, yaitu guru sebagai perencana, guru sebagai organisatir, guru sebagai pemimpin, dan guru sebagai pengawas.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2004. Media Pembelajaran. Jakarta: RajaGrafindo.

Davis, Ivor K. 1991. Pengelolaan Belajar. Jakarta: Rajawali.

Ibrahim, R. 1995. Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

N.K, Roestiyah. TT. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Purwanto, Ngalim, M. 2012. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Rosdakarya.

Sardiman. 1996. Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar. Jakarta: RajaGrafindo.




[1] Ivor K Davis, Pengelolaan Belajar, (Jakarta: Rajawali, 1991), hlm. 35.
[2] R. Ibrahim, Perencanaan Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hlm. 63.
[3] Ivor K Davis, Pengelolaan…, hlm. 123-124.
[4] Azhar Arsyad, Media Pembelajaran, (Jakarta: RajaGrafindo, 2004), hlm. 81-82.
[5] Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar-Mengajar, (Jakarta: RajaGrafindo, 1996), hlm. 91-94.
[6] Roestiyah. N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, TT), hlm. 3.
[7] M. Ngalim Purwanto, Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran, (Bandung: Rosdakarya, 2012), hlm. 5.

Advertisement

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top