PENDEKATAN PSIKOLOGIS DALAM
PENGELOLAAN KELAS
MAKALAH
Disusun dan
diajukan guna memenuhi tugas terstruktur
Mata Kuliah Manajemen Kelas
Dosen Pengampu : Miswanto,
Oleh:
ULIN NAVISSAROH (1223301167)
UMI THOHAROH (1223301168)
UUM MUTOHAROH (1223301169)
VENI MUHAROMAH (1223301170)
VENI RAHAYU (1223301171)
VITA ULFATUN (1223301172)
6 PAI E
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI
PURWOKERTO
2015
A.
PENDAHULUAN
Salah satu tugas guru yang harus
dilaksanakan adalah pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif bagi anak didik seingga tercapai tjuan pengajaran secara
efektif, efesien dan produktif. Ketika kelas terganggu, guru berusaha
mengembalikannya agar tidak menjadi penghalang bagi proses belajar mengajar.
Dalam konteks yang demikian itulah
kiranya pengelolaan kelas penting untuk diketahui oleh siapa pun juga yang
menerjunkan dirinya kedalam dunia pendidikan.
B.
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Pengelolaan Kelas
Pengelolaan
kelas terdiri dari dua kata, yaitu pengelolaan dan “kelas”. Pengelolaan itu sendiri akar
katanya adalah “kelola”, ditambah awal “pe” dan akhiran “an”. Istilah lain arti kata pengelolaan adalah
“manajemen”. Manajemen kelas merupakan proses pemberdayaan sumbe daya baik
material elemen maupun human elemen di dalam kelas oleh guru sehingga meberikan
dukungan terhadap kegiatan belajar siswa dan mengajar guru.[1]
2.
Tujuan Pengelolaan kelas
Pengelolaan
kelas dimaksudkan untuk menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa
lingkungan kelas yang baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan
kemampuannya. Kemudian, dengan pengelolaan kelas
produknya harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Secara umum tujuan pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas
bagi bermcam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional,
dan intelektual dalam kelas.
3.
Pendekatan
psikologis dalam pengelolaan kelas
Siswa adalah manusia yang perlu diperlakukan sebagai
apa adanya. Seperti manusia siswa memiliki insting, pembawaan, sifat-sifat dan
aspek-aspek kejiwaan atau aspek psikologis yang menjadi dasar dari
pengembangannya.[2]
Maka sebagai seorang guru harus mendalami kerangka acuan pendekatan-pendekatan
kelas, sebab didalam penggunaannya ia harus terlebih dahulu menyakinkan bahwa
pendekatan yang dipilihnya untuk menangani suatu kasus pengelolaan kelas
merupakan alternative yang terbaik dengan hakikat masalahnya. Artinya, seorang
guru terlebih dahulu harus menetapkan bahwa penggunaan suatu pendekatan yang
cocok dengan hakikat masalah yang ingin ditanggulangi.
Berkaitan dengan pendekatan psikologis dalam
pengelolaan kelas ada beberapa pendekatan, yaitu:
a.
Behavior-Modification
Approach
Pendekatan
ini bertolak dari psikologi behavioral yang mengungkapkan asumsi bahwa (1)
semua tingkah laku, yang baik maupn yang kurang baik merupakan hasil proses
belajar, (2) ada sejumlah kecil proses psikologi yang fundamental yang dapat
digunakan untuk menjelaskan terjadinya proses belajar yang dimaksud.[3] Adapun
proses psikologi yang dimaksud adalah penguatan positif, hukuman, penghapusan,
dan penguatan negatif.
Untuk membina tingkah laku yang dikehendaki guru harus
memberiakan penguatan positif (member stimulus positif sebagai ganjaran) atau
penguatan negatif
(menghilangkan hukuman suatu stimulus negatif). Sedangkan untuk mengurangi
tingkah laku yang tidak
dikehendaki, guru mengunakan hukuman (member stimulus negatif), penghapusan
(pembatalan pemberian ganjaran yang sebenarnya diharapkan peserta didik) atau
time out (membatalkan kesempatan peserta didik untuk memperoleh ganjaran baik
yang berupa barang maupun berupa kegiatan yang disenanginy).
Beberapa prinsip pendekatan ini
antara lain: (1) pendekatan motivasi yang menghasilkan komitmen sangat
dibutuhkan, (2) menejemen tidak dapat dianggap sebagai suatu proses teknik yang
kaku, (3) manajemen harus sistematis dan sistemis, (4) pendekatan yang
digunakan dalam menejemen harus hati-hati, (5) unsure manusia merupakan kunci
utama yang menentukan sukses atau gagalnya mencapai tujuan, dan lain-lain.[4]
b.
Socio-Emotional
Climate Approach
Pendekatan
ini berlandaskan psikologi klinis dan konseling, pendekatan pengellolaan kelas
ini mengasumsikan bahwa (1) proses belajar mengajar yang efektif mempersaratkan
iklim social emosional yang baik dalam arti terdapat hubungan interpersonal
yang baik antara guru,-peserta didik dan antara peserta didik, (2) guru
menduduki posisi terpenting bagi terbentuknya iklim sosio emosional yang baik
itu.[5]
Carl
A. Rogers menekankan pentingnya guru bersikap tulus dihadapan peserta didik
(rowalness, genueness, and congruence), menerima dan menghargai peserta didik
sebagai manusia, dan mengerti peserta didik dari sudut pandang peserta didik
sendiri. Selanjutnya Halm C. Ginott menganggap sangat penting kemampuan guru
melakukan komunikasi yang efektif dengan peserta didik dalam arti mengusahakan
pemecahan masalah, guru membicarakan situasi, dan bukan pribadi pelaku
pelanggaran, mendeskripsikan apa yang perlu dilakukan sebagai alternative
penyelesaian.
c.
Group-Processess
Approach
Pendekatan
ini didasarkan pada psikologs social dan dinamika kelompok. Oleh karena itu, maka asumsi pokoknya alahah (1) pengalaman
belajar sekolah berlangsung dalam konteks kelompok social, dan (2) tugas guru
yang terutama dalam pengelolaan kelas adalah
membina dan memelihara kelompok-kelompok yang produktif dan kohesif.[6]
Menurut Richard A. Schmuck dan Patricia A. Schmuck, unsur-unsur
pengelolaan kelas dalam rangka pengelolaan group process adalah:
1. Hubungan
timbale balik (mutual ekspectation) tingkah laku guru-peserta didik dan antara
peserta didik sendiri.
2. Kepemimpinan
baik dari guru maupun peserta didik yang mengarahkan pada kegiatan kelompok kea
rah pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
3. Pola
persahabatan antara anggota kelas, semakin baik ikatan persahabatan semakin
besar peluang kelompok menjadi produktif.
4. Norma,
dalam arti dimiliki serta dipertahankan norma kelompom yang produktif serta
diubah dan digantinya norma yang kurang produktif.
5. Terjadinya
komunikasi yang efektif.
6. Cohesiveness,
yakni perasaan keterikatan masing-masing anggota terhadap kelompok.
d.
Eclectical
Approach
Ketiga
pendekatan yang telah diuraikan di atas adalah ibarat sudut pandang yang
berbeda-beda terhadap objek yang sama. Oleh karena itu, maka seorang guru
seyogyanya menggunakan pendekatan eklektik, yakni:
1. Menguasai
pendekatan-pendekatan pengelolaan kelas yang potensial, dalam hal inin
pendekatan perubahan tingkah laku. Penciptaan iklim sosio-emosional dan proses
kelompok.
2. Dapat
memilih pendekatan yang tepat dan melaksanakan prosedur yang sesuai dengan baik
dalam maslah pengelolaan kelas.
Pada gilirannya, kemampuan guru memilih
strategi pengelolaan kelas yang tepat sangat tergantung kemampuannya
menganalisis masalah pengelolaan kelas yang dihadapinya.[7]
C.
PENUTUP
Pengelolaan kelas dimaksudkan untuk
menciptakan kondisi dalam kelompok kelas yang berupa lingkungan kelas yang
baik, yang memungkinkan siswa berbuat sesuai dengan kemampuannya.Kemudian,
dengan pengelolaan kelas produknya harus sesuai dengan tujuan-tujuan yang
hendak dicapai.
Adapun
pendekatan psikologis yang perlu diperhatikan oleh guru dalam pengelolaan kelas
meliputi Behavior-Modification Approach, Socio-Emotional Climate Approach,
Group-Processess Approach, Eclectical Approach.
DAFTAR
PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. Manajemen
Pengajaran Secara Manusiawi. Jakarta: Rineka Cipta.
Rohani
, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Rohani, Ahmad. 2010. Pengelolaan Pengajaran Sebuah Pengantar
Menuju Guru Professional. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Tim Dosen Administrasi Pendidikan
Universitas Pendidikan Indonesia. 2011. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Usman, Husaini. 2011. Manajemen
Teori,Praktik, dan Riset Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
[1] Tim Dosen Administrasi
Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2011), hlm. 108.
[2] Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi,
(Jakarta: Rineka Cipta:), hlm.61.
[4]Husaeni Usman, Manajemen Teori,Praktik, dan Riset Pendidikan,
(Jakarta: Bumi Aksara, 2011), hlm. 39.
[5]Ahmad Rohani, Pengelolaan Pengajaran Sebuah Pengantar
Menuju Guru Professional, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2010), hlm. 173.
[6] Ibid, hlm. 175
[7] Ibid, hlm. 178.


0 komentar:
Posting Komentar